| Edisi : 01 Juni 2014 |
Pesan Gembala Sidang
|
Ciri Orangtua yang Jadi Sahabat Anak
Shalom Saudara/Saudari,Ulangan 11:18-19
Salah
satu cara pengasuhan yang baik buat anak adalah dengan cara menjadi
sahabat bagi anak tersebut. Pertanyaannya, bagaimana dapat menjadi
sahabat sekaligus dapat mendidik anak sesuai dengan kebenaran sejati?
Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
- Sebagai orangtua, kita harus mempunyai sikap yang benar terhadap anak.
Seperti yang tertulis dalam kitab Ulangan yang diambil dari Ulangan 11:18, 19 Tuhan
meminta kita untuk mewariskan iman kita kepada anak. Jangan sampai anak
dijadikan penyambung keturunan belaka dan hanya menjadi beban.
- Perlu bagi orangtua untuk masuk ke dunia anak, kita mesti pahami tahap
perkembangan anak dan pola pikirnya. Dengan begitu, kita tahu caranya
masuk dan menggunakan bahasa-bahasa yang dipahami anak-anak seusianya.
Cobalah untuk mengerti perasaan anak-anak dan komunikasikan pengertian
kita kepada mereka dengan benar.
Setelah mengetahui hal-hal di atas, ada pula hal-hal yang harus kita
berikan kepada si anak yaitu kita perlu menerima kelemahan anak kita
sendiri. Jangan melecehkannya karena kelemahannya. Setelah itu,
bersama-sama menikmati kelebihannya dan hal-hal apa yang dia suka. Namun
meskipun menjadi sahabat baginya, jangan lupa peran kita sebagai
orangtua.
Artinya, kita mesti memberikan cinta kasih kepada anak, kita tidak
boleh melupakan tugas kita untuk memperhatikan, mengasihi, dan
mendisiplin mereka. Kalau memang anak-anak salah, mereka harus
didisiplin.
Mungkin sekali bagi kita untuk menjadi sahabat sekaligus orangtua yang
baik bagi anak-anak. Terapkan rasa percaya di dalam dirinya sehingga
dia mau bercerita apa saja kepada kita sebagai orangtua dan jadilah
perwakilan yang baik bagi Tuhan untuk membentuk generasi muda yang takut
akan Tuhan.
| |
Seputar Buletin Mingguan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Mingguan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Mingguan. Tampilkan semua postingan
Ciri Orang Tua yang Jadi Sahabat Anak
Label:
Buletin,
Buletin Mingguan
Mengatasi Kesalahan
| Edisi : 29 Mei 2014 |
Pesan Gembala Sidang
|
Mengatasi Kesalahan
Shalom Saudara/Saudari,Lukas 15:11-24
Tidak ada seorang pun yang kebal dari kesalahan. Sepandai apapun seseorang, ia pasti melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, kita perlu bertanya tidak hanya “mengapa” tetapi juga “bagaimana” kita dapat mengatasi kesalahan atau kegagalan hidup kita.
Lukas 15 menceritakan tentang seorang anak yang melakukan kesalahan dalam hidupnya. Ia meminta harta dari ayahnya, menghamburkannya dengan hidup berfoya-foya, dan akhirnya menjadi melarat. Tetapi, kisah ini tidak berhenti di sini. Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Bagaimana sikap anak yang bungsu ini dalam menghadapi kesalahannya?
Pertama, Lukas 15:17 mengatakan bahwa ia menyadari keadaannya. Kesandaran merupakan langkah positif pertama menuju kesembuhan! Banyak orang yang melakukan kesalahan yang sama berulang kali dan tidak pernah menyadari akan kesalahannya. Kita perlu berdoa yang meminta kepada Tuhan agar Dia mengaruniakan kepada kita hikmat untuk dapat peka dengan dosa sehingga kita cepat menyadari kesalahan kita.
Kedua, anak ini mengingat bahwa kasih bapanya lebih besar dari pada segala kesalahannya (Lukas 15:18). Kita perlu memegang prinsip hidup ini: Kasih Tuhan selalu lebih besar daripada segala kesalahan kita. Ini bukanlah alasan untuk melakukan dosa, melainkan suatu pengharapan. Tuhan tidak pernah menolah orang yang dating kepadaNya, berapa pun besar kesalahannya. Tuhan tidak pernah memutuskan hubungan-Nya dengan kita. Kitalah yang sering menolak dan meninggalkan Dia. Dia adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun.
Ketiga, anak ini bangkit dan pergi kepada bapanya (Lukas 15:20). Bila kita tidak bangkit dari kesalahan kita, maka pembaruan tidak akan pernah terjadi. Selama kita mau bangkit, kita tidak akan gagal. Kegagalan terjadi bila kita berhenti mencoba. Pelajari kesalahan kita dan apa yang membuat kita gagal, supaya hal tersebut tidak terulang lagi.
Kesimpulan Topik
Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. (Lukas 1:48-49)
| |
Label:
Buletin,
Buletin Mingguan




